Tulisan ini terinspirasi dari sebuah musibah yang menimpa putra sulungku yang bernama “Alul” yang berumur 9 tahun bersama istriku yang terjadi pada Hari Rabu tanggal 9 Maret 2011. Pada saat itu sepeda motor yang mereka tumpangi ketika pulang dari sekolah tertabrak sebuah mobil bermerek Carry yang dikendarai oleh salah seorang pensiunan PNS. Mereka berdua mengalami luka yang cukup parah. Anakku yang saat itu tidak mengenakan helm terbanting ke aspal dan tepat mengenai bagian muka. Tak pelak lagi darah pun mengalir deras dibagian wajah dan menutupi seluruh bagian wajahnya. Wajah putraku yang lucu dan menggemaskan selama ini berubah menjadi pucat pasi berlumuran darah. Dahi dan hidungnya pun harus dijahit lantaran sobek terkena benturan aspal. Sementara istriku tertabrak pada bagian kaki sehingga terpelanting beberapa meter dari sepeda motornya. Ia mengalami luka pada bagian kaki, dan tangannya pun mengalami luka memar. Satu hal yang patut aku acungkan jempol buat anakku adalah bahwa tidak setetes airmata pun yang menetes dari pelupuk matanya dan sedikitpun ia tidak mengeluh akan rasa sakit yang dialaminya saat itu. Padahal lukanya saat itu cukup parah, dan ketika dijahit lukanya oleh dokter, sempat ditanya oleh dokter; ”nggak sakit?. Anakku dengan tegar menjawab: ”nggak”! Aku yang berada disampingnya saja saat itu sempat meneteskan airmata lantaran tak kuat melihat wajah anakku yang berlumuran darah. Ada sebait kalimat yang terucap dari mulut anakku saat itu yang membuat hatiku sangat pilu mendengarnya. Ia mengatakan pada ibunya: ’Bu...! pindah saja sekolah, Alul. Biar ibu tidak capek jemput Alul. Takut ketabrak lagi” itulah kalimat yang sempat terucap dari bibir mungilnya. Mendengar kalimat itu tersentak jerit batinku dan membuatku tak mampu menahan derai airmata yang menetes dipulupuk mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Oh, Tuhan, betapa berdosanya aku yang tidak mampu menjadi pelindung bagi anak dan istriku.
Selama seminggu putraku tidak masuk sekolah dan harus terbaring lemah diatas pembaringannya. Selama dalam perawatan itu, tak ada seorang temannya pun –baik teman sekolah atau teman sepermainannya dan tak terkecuali guru dan kepala sekolahnya- yang datang menjenguk. Puteraku saat ini sedang duduk di bangku kelas 3 (tiga) pada salah satu sekolah yang berbasiskan agama yang ada di Kota Bima. Puteraku itu tergolong anak yang peramah dan memiliki banyak teman bergaul. Tapi yang membuatku sangat heran, mengapa tidak ada seorang temannya yang datang menjenguk? Kemana nilai rasa kemanusiaan yang tertanam dalam diri siswa-siswa itu? Pertanyaan-petanyaan semacam ini menjadi sangat menyesakkan dada ketika kita banyak berharap dunia pendidikan kita mampu mencetak generasi yang sesuai dengan amanat undang-undang sistem pendidikan nasional
Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengeluh dan membagi-bagi kepedihan yang dirasakan penulis saat ini kepada para pembaca yang budiman. Tetapi tulisan ini hanya bermaksud untuk menggugah hati dan perasaan kita yang peduli akan nasib pendidikan kita. Ini adalah salah satu potret pendidikan dari sekian banyak potret pendidikan kita yang tampaknya masih jauh dari nilai humanis. pendidikan dapat dijadikan solusi agar praktek kekerasan dalam pendidikan dapat berkurang bahkan dapat dihilangkan. Karena humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional dan cerdas spiritual bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu menngatasi persoalan yang dihadapi. (Tilaar, 2004: 25)
Pertanyaan yang mendasar, apa yang mesti harus kita lakukan ketika melihat anak didik kita tak lagi peduli dengan teman sebayanya? Akankah kita akan membiarkan anak didik kita hanya dibekali dengan pengetahuan an sich, sementara empatinya mati rasa?
Bagaimana kita bisa memahami, ketika kita menyaksikan di layar kaca televisi para remaja pada jam belajar di sekolah behamburan ke jalan raya lalu berkelahi, saling kejar, saling lempar, saling pukul sesama pelajar. Bagaimana kita bisa mengartikan, ketika para mahasiswa yang digadang-gadang menjadi seorang intelektual, cendekiawan di perguruan tinggi, turun ke jalan membakar ban, spanduk, foto, kendaraan di tengah jalan raya sambil bersorak sorai penuh semangat kemenangan-sementara jutaan orang menonton entah dengan perasaan bagaimana di layar TV? Memang tidak semua pelajar berkelahi dan tidak semua mahasiswa turun ke jalan berlaku anarkis dan destruktif, tapi seberapa pun kecil prosentase mereka tentunya menarik dan penting dicrmati.
Bagaimana dapat kita pahami ketika mitos persatuan dan kesatuan begitu didengungkan, namun pada saat bersamaan antar desa, antar suku, agama, ras dan antar golongan saling tikam dan saling bunuh? Dimana kita mesti letakkan aksi massa yang bermai-ramai mengahakimi, menghajar lalu membakar hidup tersangka tindak kejahatan di tengah jalan? Contoh-contoh tersebut masih banyak berserakan di media-media massa dengan fakta-fakta aktual yang membuat kita terenyuh menyaksikannya.
Ini adalah sebuah realitas yang menggambarkan adanya wajah pendidikan kita yang sangat memprihatinkan. Padahal masih banyak problematika pendidikan kita yang perlu segera dibenahi