Kamis, 19 April 2012

Ratapan Pilu Nasib Pendidikan Kita

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah musibah yang menimpa putra sulungku yang bernama “Alul” yang berumur 9 tahun bersama istriku yang terjadi pada Hari Rabu tanggal 9 Maret 2011. Pada saat itu sepeda motor yang mereka tumpangi ketika pulang dari sekolah tertabrak sebuah mobil bermerek Carry yang dikendarai oleh salah seorang pensiunan PNS. Mereka berdua mengalami luka yang cukup parah. Anakku yang saat itu tidak mengenakan helm terbanting ke aspal dan tepat mengenai bagian muka. Tak pelak lagi darah pun mengalir deras dibagian wajah dan menutupi seluruh bagian wajahnya. Wajah putraku yang lucu dan menggemaskan selama ini berubah menjadi pucat pasi berlumuran darah. Dahi dan hidungnya pun harus dijahit lantaran sobek terkena benturan aspal. Sementara istriku tertabrak pada bagian kaki sehingga terpelanting beberapa meter dari sepeda motornya. Ia mengalami luka pada bagian kaki, dan tangannya pun mengalami luka memar. Satu hal yang patut aku acungkan jempol buat anakku adalah bahwa tidak setetes airmata pun yang menetes dari pelupuk matanya dan sedikitpun ia tidak mengeluh akan rasa sakit yang dialaminya saat itu. Padahal lukanya saat itu cukup parah, dan ketika dijahit lukanya oleh dokter, sempat ditanya oleh dokter; ”nggak sakit?. Anakku dengan tegar menjawab: ”nggak”!  Aku yang berada disampingnya saja saat itu sempat meneteskan airmata lantaran tak kuat melihat wajah anakku yang berlumuran darah. Ada sebait kalimat yang terucap dari mulut anakku saat itu yang membuat hatiku sangat pilu mendengarnya. Ia mengatakan pada ibunya: ’Bu...! pindah saja sekolah, Alul. Biar ibu tidak capek jemput Alul. Takut ketabrak lagi” itulah kalimat yang sempat terucap dari bibir mungilnya. Mendengar kalimat itu tersentak jerit batinku  dan membuatku tak mampu menahan derai airmata yang menetes dipulupuk mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Oh, Tuhan, betapa berdosanya aku yang tidak mampu menjadi pelindung bagi anak dan istriku.
Selama seminggu putraku tidak masuk sekolah dan harus terbaring lemah diatas pembaringannya. Selama dalam perawatan itu, tak ada seorang temannya pun –baik teman sekolah atau teman sepermainannya dan tak terkecuali guru dan kepala sekolahnya- yang datang menjenguk. Puteraku saat ini sedang duduk di bangku kelas 3 (tiga) pada salah satu sekolah yang berbasiskan agama yang ada di Kota Bima. Puteraku itu tergolong anak yang peramah dan memiliki banyak teman bergaul. Tapi yang membuatku sangat heran, mengapa tidak ada seorang temannya yang datang menjenguk? Kemana nilai rasa kemanusiaan yang tertanam dalam diri siswa-siswa itu? Pertanyaan-petanyaan semacam ini menjadi sangat menyesakkan dada ketika kita banyak berharap dunia pendidikan kita mampu mencetak generasi yang sesuai dengan amanat undang-undang sistem pendidikan nasional 
Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengeluh dan membagi-bagi kepedihan yang dirasakan penulis saat ini kepada para pembaca yang budiman. Tetapi tulisan ini hanya bermaksud untuk menggugah hati dan perasaan kita yang peduli akan nasib pendidikan kita. Ini adalah salah satu potret pendidikan dari sekian banyak potret pendidikan kita yang tampaknya masih jauh dari nilai humanis. pendidikan dapat dijadikan solusi agar praktek kekerasan dalam pendidikan dapat berkurang bahkan dapat dihilangkan. Karena humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional dan cerdas spiritual bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu menngatasi persoalan yang dihadapi. (Tilaar, 2004: 25)
Pertanyaan yang mendasar, apa yang mesti harus kita lakukan ketika melihat anak didik kita tak lagi peduli dengan teman sebayanya? Akankah kita akan membiarkan anak didik kita hanya dibekali dengan pengetahuan an sich, sementara empatinya mati rasa?
Bagaimana kita bisa memahami, ketika kita menyaksikan di layar kaca televisi para remaja pada jam belajar di sekolah behamburan ke jalan raya lalu berkelahi, saling kejar, saling lempar, saling pukul sesama pelajar. Bagaimana kita bisa mengartikan, ketika para mahasiswa yang digadang-gadang menjadi seorang intelektual, cendekiawan di perguruan tinggi, turun ke jalan membakar ban, spanduk, foto, kendaraan di tengah jalan raya sambil bersorak sorai penuh semangat kemenangan-sementara jutaan orang menonton entah dengan perasaan bagaimana di layar TV? Memang tidak semua pelajar berkelahi dan tidak semua mahasiswa turun ke jalan berlaku anarkis dan destruktif, tapi seberapa pun kecil prosentase mereka tentunya menarik dan penting dicrmati.
Bagaimana dapat kita pahami ketika mitos persatuan dan kesatuan begitu didengungkan, namun pada saat bersamaan antar desa, antar suku, agama, ras dan antar golongan saling tikam dan saling bunuh? Dimana kita mesti letakkan aksi massa yang bermai-ramai mengahakimi, menghajar lalu membakar hidup tersangka tindak kejahatan di tengah jalan? Contoh-contoh tersebut masih banyak berserakan di media-media massa dengan fakta-fakta aktual yang membuat kita terenyuh menyaksikannya.
Ini adalah sebuah realitas yang menggambarkan adanya wajah pendidikan kita yang sangat memprihatinkan. Padahal masih banyak problematika pendidikan kita yang perlu segera dibenahi
 

Minggu, 23 Januari 2011

TIPE-TIPE CINTA PADA DIRI MANUSIA

Setiap manusia yang terlahir di dunia ini pasti memiliki perasaan cinta. Bila tidak memiliki perasaan cinta, berarti orang tersebut boleh dikatakan abnormal. Hewan saja punya naluri cinta. Apalagi manusia yang sudah dibekali akal, hati, dan nafsu oleh Allah, maka sudah jelas  muatan cinta yang dimiliki manusia lebih besar nilainya bila dibandingkan dengan makhluk lain. Tapi patut disayangkan, meski sudah diberikan kelebihan-kelebihan bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain, masih banyak juga manusia yang melawan naluri cinta itu berubah menjadi naluri kebringasan. Lihat saja berita-berita yang disiarkan melalui media cetak atau elektronik atau kita saksikan sendiri dilingkungan kita masing-masing, ternyata banyak juga manusia yang tega menghabisi nyawa orang yang dikasihinya. Seorang ibu tega membunuh bayinya. Entah itu ketika masih berada dalam kandungan ataupun juga ketika sudah terlahir di dunia. Ada juga terdengar oleh kita seorang suami yang tega menghabisi nyawa isterinya atau bahkan sebaliknya. Lantas mengapa tragedi kehidupan semacam ini berubah menjadi sedemikian kejam dan sadis?. Lalu dimana letak posisi cinta yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia sehingga pada kasus-kasus tertentu orang menjadi tega menghabisi nyawa orang-orang yang dikasihi dan disayanginya selama ini? Banyak aspek yang menjadi penyebabnya. Tergantung dari sudut pandang kita. Namun pada tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari penyebab dan memberikan solusi dari semua penyebab itu. Dalam tulisan ini hanya akan sedikit mengupas tentang tipe-tipe cinta yang muncul dalam diri manusia. Hal ini menjadi menarik karena ternyata cinta yang terdapat dalam diri manusia ini memiliki tipe yang berbeda. Tipe-tipe perasaan cinta yang dimiliki manusia  itu adalah sebagai berikut:
1.       Tipe orang yang cinta kepada sesuatu tetapi ia merasa prihatin dengan yang dicintainya itu. Orang yang memiliki tipe cinta semacam ini tidak mempertimbangkan efek dari yang dicintainya itu. Ia tahu bahwa efek yang ditimbulkan dari kecintaannya ini akan merugikan bagi dirinya, namun karena ia sulit menghilangkan perasaan cinta ini, sehingga yang bersangkutan seringkali dihantui oleh perasaan prihatin dan kecemasan. Sebagai contoh adalah seorang perokok. Orang yang merokok pasti ia tahu dan menyadari bahwa efek yang ditimbulkan dari merokok adalah merugikan kesehatannya. Meski ada juga yang merasa sehat dengan menggantungkan diri  pada jalan merokok. Namun karena kesukaannya pada rokok sehingga ia tidak menghiraukan apapun resiko yang ditimbulkan dari bahaya merokok, misalnya rawan munculnya penyakit serangan jantung, kanker, impotensi, gangguan kehamilan, gangguan pada janin, dan lain-lain. (lihat iklan kesehatan pada bungkus rokok). Demikian juga orang mukmin yang masih senang melanggar aturan atau norma agama. Ia tahu bahwa melanggar aturan atau norma agama adalah dosa, dan mentaatinya adalah memperoleh ganjaran pahala. Tetapi karena kecintaannya untuk melanggar aturan agama sehingga ia tetap saja melakukannya.
2.       Tipe orang yang mencintai sesuatu dan ia merasa bangga dengan yang dicintainya itu. Orang yang memiliki tipe cinta ini merasakan adanya kebahagiaan dan kesenangan yang tiada taranya, karena tidak ada efek bahaya yang ditimbulkan dalam diri orang yang memiliki perasaan cinta ini selain hanya kesenangan dan kebahagiaan. Lihat saja orangtua yang mencintai anak yang dilahirkannya. Bagi pasangan suami isteri, kehadiran seorang bayi dalam kehidupannya adalah segala-galanya. Ia mengalahkan kecintaan pada yang lainnya. Bisa saja kecintaan pada pasangan hidup mungkin sudah bergeser pada kecintaan pada seorang anak yang dilahirkannya. Ia akan mencium, menimang-nimang, dan menggendong bayinya itu sambil menyanyikan lagu-lagu untuk meninakbobokkan bayinya. Ia akan menceritakan kehebatan dan keunggulan anaknya kepada orang lain, meski tanpa diminta untuk menceritakannya. Ia tidak peduli apakah orang yang mendengarkan ceritanya senang atau tidak, yang terpenting ia senang dan merasa bangga dengan yang dicintainya itu. Demikian juga orang mukmin yang karena cintanya yang begitu besar kepada Allah, akan mengalahkan perasaan cinta pada yang lain. Ia tidak akan pernah sedetikpun waktu berlalu secara percuma, selain hanya mengingat Allah. Karena di Tangan-Nya lah cinta itu terpatri dalam jiwa raganya. Maka tidak heran bila dalam diri orang mukmin muncul perasaan cinta dan rindu untuk ingin selalu bertemu dengan Tuhannya. Rindu dan airmata hanya untuk Allah SWT, karena di sanalah puncak kebahagiaan itu didapatkan.
Itulah tipe-tipe cinta yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Bukan berarti tipe-tipe cinta diatas tidak bisa dirubah keberadaannya. Tinggal kita yang memilihnya. Mau ditempatkan pada posisi yang mana cinta itu. Apakah tipe cinta yang pertama yang dipilih ataukah tipe cinta yang kedua. Keputusan ada ditangan kita masing-masing.

Kamis, 13 Januari 2011

BERIKAN APRESIASI PADA DUNIA PENDIDIKAN

Indonesia unggul adalah slogan yang dihembuskan oleh Presiden kita DR. H. Susilo Bambang Yudoyono melalui buku ang diterbitkan pada akhir Desember 2008. semangat ini perlu kita berikan apresiasi dan terus kita tumbuhkan semangat itu. Namun slogan itu akan sia-sia bilamana dunia pendidikan kita kurang diperhatikan. dan sistem birokrasi tidak ditempatkan pada posisinya. maka menjunjung  tinggi nilai-nilai luhur pendidikan yang mencerdaskan anak-anak bangsa menjadi suatu keniscayaan. Bukan sekedar dijadikan pengumpulan uang royalti dan gaji besar belaka. Tapi yang lebih penting adalah bahwa guru harus ditempatkan pada posisi yang layak dalam kerangka character building serta menghargai dan memberdayakan guru dalam konteks reformasi pendidikan menjadi kemestian..
Tingkatan kecintaan manusia kepada sesuatu:
         Org yg menyukai, menyenangi, atau mencintai sst tanpa suatu alasan.
         Cinta karena ada manfaat dari yg diperoleh dari yg dicintai.
         Mencintai sesuatu krn ia mmg layak utk dicintai.
         Org yg mencintai sst dg berbagai alasan, layak dicintai sekaligus memberi manfaat kpdnya