1. Tipe orang yang cinta kepada sesuatu tetapi ia merasa prihatin dengan yang dicintainya itu. Orang yang memiliki tipe cinta semacam ini tidak mempertimbangkan efek dari yang dicintainya itu. Ia tahu bahwa efek yang ditimbulkan dari kecintaannya ini akan merugikan bagi dirinya, namun karena ia sulit menghilangkan perasaan cinta ini, sehingga yang bersangkutan seringkali dihantui oleh perasaan prihatin dan kecemasan. Sebagai contoh adalah seorang perokok. Orang yang merokok pasti ia tahu dan menyadari bahwa efek yang ditimbulkan dari merokok adalah merugikan kesehatannya. Meski ada juga yang merasa sehat dengan menggantungkan diri pada jalan merokok. Namun karena kesukaannya pada rokok sehingga ia tidak menghiraukan apapun resiko yang ditimbulkan dari bahaya merokok, misalnya rawan munculnya penyakit serangan jantung, kanker, impotensi, gangguan kehamilan, gangguan pada janin, dan lain-lain. (lihat iklan kesehatan pada bungkus rokok). Demikian juga orang mukmin yang masih senang melanggar aturan atau norma agama. Ia tahu bahwa melanggar aturan atau norma agama adalah dosa, dan mentaatinya adalah memperoleh ganjaran pahala. Tetapi karena kecintaannya untuk melanggar aturan agama sehingga ia tetap saja melakukannya.
2. Tipe orang yang mencintai sesuatu dan ia merasa bangga dengan yang dicintainya itu. Orang yang memiliki tipe cinta ini merasakan adanya kebahagiaan dan kesenangan yang tiada taranya, karena tidak ada efek bahaya yang ditimbulkan dalam diri orang yang memiliki perasaan cinta ini selain hanya kesenangan dan kebahagiaan. Lihat saja orangtua yang mencintai anak yang dilahirkannya. Bagi pasangan suami isteri, kehadiran seorang bayi dalam kehidupannya adalah segala-galanya. Ia mengalahkan kecintaan pada yang lainnya. Bisa saja kecintaan pada pasangan hidup mungkin sudah bergeser pada kecintaan pada seorang anak yang dilahirkannya. Ia akan mencium, menimang-nimang, dan menggendong bayinya itu sambil menyanyikan lagu-lagu untuk meninakbobokkan bayinya. Ia akan menceritakan kehebatan dan keunggulan anaknya kepada orang lain, meski tanpa diminta untuk menceritakannya. Ia tidak peduli apakah orang yang mendengarkan ceritanya senang atau tidak, yang terpenting ia senang dan merasa bangga dengan yang dicintainya itu. Demikian juga orang mukmin yang karena cintanya yang begitu besar kepada Allah, akan mengalahkan perasaan cinta pada yang lain. Ia tidak akan pernah sedetikpun waktu berlalu secara percuma, selain hanya mengingat Allah. Karena di Tangan-Nya lah cinta itu terpatri dalam jiwa raganya. Maka tidak heran bila dalam diri orang mukmin muncul perasaan cinta dan rindu untuk ingin selalu bertemu dengan Tuhannya. Rindu dan airmata hanya untuk Allah SWT, karena di sanalah puncak kebahagiaan itu didapatkan.
Itulah tipe-tipe cinta yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Bukan berarti tipe-tipe cinta diatas tidak bisa dirubah keberadaannya. Tinggal kita yang memilihnya. Mau ditempatkan pada posisi yang mana cinta itu. Apakah tipe cinta yang pertama yang dipilih ataukah tipe cinta yang kedua. Keputusan ada ditangan kita masing-masing.
Yang jelas, kehidupan kita detik ini dan saat ini merupakan sebuah akibat. Sebabnya ialah segala-sesuatu yang telah kita perankan selama ini. Cinta merupakan satu hal yang abstrak, tentatif, dan fluktuatif. Akan berubah-ubah sesuai konteks, ruang, dan waktu. Apapun nama dan tipe cinta yang tengah digeluti seseorang di dunia ini akan menjadi hambar jika tidak dilekatkan secara vertikal kepada Sang Khalik, Allah yang telah menganugerahi cinta itu. Kita sepakat bahwa dua tipe cinta yang dideskripsi merupakan sebuah proses untuk menuju kesempurnaan kualitas cinta kepada Allah. Seseorang akan merasakan panasnya lelehan lilin setelah lelehan itu merambat ke kulitnya, dan kecil kemungkinan untuk mengulangnya. Kalau tidak maka "barang hilang ditanggung penumpang"
BalasHapus